Psikoanalisa Resistensi Freud

Asosiasi bebas tidak benar-benar bebas dalam arti bahwa klien berasosiasi dalam konteks situasi analitik. Jadi semua hal yang terjadi pada diri mereka memiliki acuan tertentu terhadap situasi itu dan mereka cenderung menolak mereproduksi materi yang direpresi. Pada tingkat paling sederhana, resistensi itu melibatkan secara sengaja untuk tidak menaati sturan fundamental . Bahkan,jika tingkat resistensi ini diatasi, resistensi akan menemukan cara- cara ekspresi yang tidak terlalu terang-terangan. Ego klien takut pada potensi ketidaksenangan yang disebabkan karena mengeksplorasi materi yang telah direpresi melalui antikateksisnya dan semakin jauh pula asosiasi klien dari materi tidak sadar yang ingin ditemukan oleh analisis.

Freud mendeskripsikan semua kekuatan berupa resistensi klien yang menentang upaya menemukan itu. Ia mengikhtisarkan lima macam resistensi.

  1. Resistensi represi
  2. Resistensi transferensi
  3. Resistensi untuk melepaskan keuntungan yang didapat dari keadaan sakitnya
  4. Resistensi id, yang mungkin menolak perubahan pada cara pemuasannya dan merasa perlu untuk menelaah medium pemuasan baru
  5. Resistensi yang berasal dari superego,rasa bersalah atau kebutuhan akan hukuman yang tidak disadari yang menolak semua kesuksesan melalui analisis. Klien merasa dirinya harus tetap sakit karena mereka tidak pantas untuk membaik. Resistensi ini merupakan jenis resistensi yang paling kuat dan paling ditakutkan oleh analisis.

Perjuangan mengatasi resistensi merupakan pekerjaan utam psikoanalisis dan bagian terpenting dari penanganan analitik. Padahal hal ini tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Kekuatan yang membantu analisis untuk mengatasi resistensi-resistensi klien adalah keinginan untuk sembuh dari klien, minat klien terhadap apa pun yang mungkin dimiliki pada saat proses analitik dan yang paling penting adalah relasi positif klien dengan analisisnya.

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut.

 

Resistensi, adalah sebuah konsep yang fundamental dalam praktek terapi Psikoanalitik, adalah suatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan.Resistensi adalah segala usaha yang dilakukan pasien untuk menghambat bahan tak sadar menjadi sadar.

 

Analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensi. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi.

Resistensi psikologis adalah fenomena sering dijumpai dalam praktek klinis di mana pasien baik secara langsung maupun tidak langsung mengubah perilaku mereka menentang atau menolak untuk membahas, mengingat, atau berpikir tentang pengalaman mungkin secara klinis relevan. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.

 

Freud memandang bahwa resistensi merupakan suatu dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Resistensi atau penolakan adalah keengganan klien untuk mengungkapkan materi ketidaksadaran yang mengancam dirinya, yang berarti ada pertahanan diri terhadap kecemasan yang dialaminya. Apabila hal ini terjadi, maka sebenarnya merupakan kewajaran. Namun, yang penting bagi konselor adalah bagaimana pertahanan diri tersebut dapat diterobos sehingga dapat teramati, untuk selanjutnya dianalisis dan ditafsirkan, sehingga klien menyadari alasan timbulnya resistensi tersebut. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.

PROSES

Proses interpretasi resistensi

  1. Terapis meminta klien melakukan asosiasi bebas dan analisis mimpi yang dapat menunjukkan kesediaan klien untuk menghubungkan pikiran, perasaan dan pengalaman klien.
  2. Selanjutnya analisis menanyakan bila terjadi hal yang berbeda dengan apa yang di utarakan misal klien bercerita dengan penuh semangat namun tiba-tiba sedih.

 

KASUS

Seorang pasien yang berbicara pada jam analitik bahwa tadi malam ia mengalami kenikmatan seksual yang luar biasa. Ia terus menerus menceritakan pengalamannya itu, tetapi kemudian analisis kaget dan meras aneh karena pada waktu pasien mengemukakan itu,pembicaraannya lambat, ragu-ragu dan seringkali mengeluh. Meskipun isi verbal dari apa yang dikemukakan penting tetapi analisis dapat merasakan pada waktu ia mengungkapkan itu, kata-kata yang diucapkan tidak cocok dengan perasaan-perasaan yang menyertainya. Disnis sedang terjadi resistensi. Akhirnya nalis menginterupsi dan menanyakan kepada klien “Mengapa Anda menceritakan bahwa anda mengalami kenikmatan seksual semalam dengan luar biasa tetapi anda nampak ragu dan seringkali mengeluh?” Klien mulanya menghindari dan menolak pertanyaan itu. Namun , akhirnya klien mengutrakan bahwa ia sedih karena hal tersebut berarti perpisahan.

DAFTAR PUSTAKA

Nelson-Jones,Richard.2006.Teori dan Praktik Konseling dan Terapi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

digg delicious stumbleupon technorati Google live facebook Sphinn Mixx newsvine reddit yahoomyweb